Tuesday, 17 March 2015

Ayam Bangkok

Oleh Syahrir Hakim

Di daerah kelahiran saya, Kabupaten Bulukumba, ada wilayah bernama Kampong Gadde. "Gadde" bahasa Bugis, artinya jajanan atau kuliner. Letaknya di pinggir laut. Kampung itu dipimpin seorang kepala kampong (kita singkat saja Pakpong). Dia dianggap cukup cerdas oleh warganya. Saking "cerdas"nya, kadang dia sendiri tak mengerti omongannya.

Program Pakpong selalu mendapat pujian, menyentuh kepentingan rakyat. Sayangnya, lebih banyak sebatas program. Seolah tak mampu diwujudkan, sehingga kadang mengundang nada sumbang. Meski demikian, stabilitas kamtibmas terkendali. Saking amannya, sejumlah ayam bangkok kesayangan Pakpong tak pernah diusik maling.

Alkisah! Suatu ketika, Pakpong mengingat janji politiknya ketika berkampanye dalam pemilihan kepala kampong (Pilkapong). Membangun gedung sekolah. Lantas Pakpong memerintahkan sekretaris kampong atau juru tulis (kita singkat Jurlis) menangani proyek tersebut. Dibantu beberapa stafnya, pak Jurlis mulai eksyen mengurus mega proyek itu ke sana-sini.

Meskipun lahan bakal gedung itu belum jelas, Pakpong sudah merasakan kepuasan tersendiri. Di kampungnya bakal berdiri gedung sekolah yang megah. Semacam "SD Inpres" lah. Dia akan menggelar selamatan. Pak Jurlis kembali mendapat tugas mempersiapkan acara itu. Menunya sekelas ayam panggang. Tapi, selera Pakpong ayam panggang jenis bangkok.

Mendapat perintah atasan, pak Jurlis mulai pusing tujuh keliling. Bayangkan! Biaya pengurusan mega proyek itu, pakai "kocek" sendiri belum juga dikembalikan. Kini malah bikin selamatan lagi. "Tapi tak apalah," pikir pak Jurlis. Dia memang seorang pamong yang cukup berpengalaman. Dia tahu apa yang akan diperbuat. Bagaimana dampaknya. Apa solusinya, sudah siap di benak pak Jurlis.

Singkat cerita, selamatan pun digelar. Balai Kampong Gadde malam itu dipadati petinggi dan staf kampung serta tokoh masyarakat. Mereka menyantap hidangan ayam bangkok panggang dengan lahapnya. Selama acara berlangsung, Pakpong tak henti-hentinya menebar senyum kepada tamunya.

Esoknya, warga Kampong Gadde sempat heboh! Apa yang terjadi? Sejumlah ayam bangkok kesayangan Pakpong raib dari kandangnya. Belum terendus siapa pelakunya. Perasaan Pakpong saat itu bercampur aduk, mirip es campur. Marah, kesal, dan apa lagi. Serba salah. Entah apa yang akan dilakukan, dia juga tak tahu.

"Wadduh, saya kemalingan! Ayam bangkok kesayangan saya hilang semua," teriak Pakpong sambil menepuk jidatnya di depan juru tulis. Pak Jurlis tak menanggapi serius, dia hanya berusaha menenangkan atasannya. "Tenang Pakpong, wilayah kita ini aman. Tidak akan pernah terjadi tindak kriminal seperti pencurian," kata pak Jurlis datar.

"Soal ayam bangkok kesayangan Pakpong itu, saya jual untuk menutupi biaya pengurusan proyek sekolah. Ada beberapa ekor sisanya, Pakpong sendiri yang telah menyantap bersama tamu-tamu saat acara selamatan malam tadi," kata pak Jurlis santai. "Alamaaaak......!" teriak lagi Pakpung sembari meninggalkan ruangan pak Jurlis.

La Oegi sedari tadi menyimak cerita ini. Ketika ditanya tanggapannya soal "kelakuan" pejabat Kampong Gadde, dia hanya mampu tertawa. "Hahaha, hahaha........., inilah contoh tata kelola pemerintahan yang tak lazim. Tak perlu dicontoh!" ujarnya sambil berlalu. (**)

No comments:

Post a Comment