Wednesday, 11 November 2015

Pahlawan dan Sate Kambing

Oleh Syahrir Hakim
Keluarga La Oegi punya tradisi syukuran setiap hari bersejarah. Semisal Agustusan dan hari pahlawan. Mereka menyatakan rasa syukur, karena masih sempat memperingati hari bersejarah itu. Acara syukuran, lazimnya ditandai sajian berbagai jenis kue. Sebagian dibagikan juga ke tetangga terdekat.

Dua hari lalu, keluarga La Oegi terpaksa rapat mendadak. Membahas makanan yang akan disajikan dalam syukuran nanti. Tahun sebelumnya mereka membuat onde-onde, bandang lojo, sawellang, putu pesse, dan sanggara janda. Tahun ini, dia akan menyajikan makanan yang berbeda dari tahun lalu. Mereka sepakat membikin nasi tumpeng.

La Oegi mengusulkan agar lauk pendampingnya pakai sate kambing. Usulan La Oegi langsung mendapat protes dari istrinya. "Waah mana ada nasi tumpeng pakai sate kambing. Tidak cocok itu. Kalau ayam bakar dan sambal tumis, itu baru matching pak," kata istrinya sambil mengangkat kedua jempolnya.

Perdebatan pun kian sengit soal lauk pendamping nasi tumpeng. Setelah mendengar penjelasan istrinya, La Oegi juga punya argumen untuk mementahkan atau menolak pendapat istrinya. Batin La Oegi mengatakan, kemungkinan istrinya hanya pura-pura, atau memang belum paham betul khasiat daging kambing.

"Kalian ini kurang paham. Sate kambing itu ada hubungannya dengan kepahlawanan. Daging kambing kan mitosnya bisa meningkatkan vitalitas kejantanan. Jadi tidak ada larangan mencicipi daging kambing, agar mirip pahlawan yang memang sudah macho," balas La Oegi sekenanya. Mendengar penjelasan La Oegi, istrinya mulai paham. "Oooh, seperti itu?".

Peringatan hari pahlawan, 10 November sudah berlalu. Memaknai hari pahlawan itu bukan sekadar seremonial belaka. Tetapi lebih dari itu. Kita harus menjelma menjadi pahlawan-pahlawan baru sesuai situasi dan kondisi terkini.

Bila tempo doeloe para pejuang berperang secara fisik. Keluar masuk hutan bergerilya. Menggunakan siasat perang menghadapi persenjataan canggih para penjajah. Maka generasi saat ini menghadapi perang yang tak kalah hebatnya di masa lalu. Generasi saat ini harus bertarung melawan pembodohan, kemiskinan, dan kesewenang-wenangan yang terjadi di negeri ini.

Menurut La Oegi, beberapa sumber sering mendeskripsikan cara memaknai hari pahlawan dari berbagai penyandang profesi. Namun, dalam realitasnya masing-masing profesi yang tidak disebutkan satu per satu itu, ternyata belum memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. "Lihat saja maraknya permasalahan di negeri ini. Mulai dari korupsi secara 'berjamaah' di kalangan pejabat, aksi tawuran para pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan tindak kriminalitas lainnya," celoteh La Oegi.

Meski La Oegi berceloteh, dia tetap mengingatkan kepada yang berwenang. Semoga dapat menjadi solusi terbaik bagi setumpuk masalah itu. Misalnya, memaknai hari pahlawan dengan menindak tegas para koruptor. Memberikan penyuluhan kepada pelajar agar tidak terlibat tawuran. Penyuluhan hukum agar remaja kita tidak terperangkat dalam penyalahgunaan narkoba.

Memaknai hari pahlawan seperti itu, kata La Oegi merupakan penghargaan bagi pahlawan yang telah mewariskan nilai-nilai heroik kepada generasi penerus. Kini saatnya mengintrospeksi diri dan membenahi kualitas sumber daya manusia kita. Selanjutnya menjadi sikap dan karakter seorang pahlawan bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, dan negeri ini. Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

No comments:

Post a Comment