Tuesday, 24 November 2015

Tukang Catut

Oleh Syahrir Hakim

Gaduh di ibukota negara soal dugaan pemimpin dan wakilnya dicatut. Hampir setiap saat stasiun TV menayangkan berita pencatutan. La Oegi bersikap sebagai penonton yang baik ketika menyaksikan "sinetron politik" itu. Maklum dia tahu diri sebagai rakyat kecil. Kepentingannya hanya bukti nyata, bahwa para pemimpinnya bekerja. Rakyatnya pun menikmati hasil karya pemimpinnya berupa kesejahteraan.

Kata catut ditemukan La Oegi dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), yaitu sebuah alat pertukangan. Alat itu digunakan untuk mencabut atau melepas paku yang menancap di tembok atau pada kayu. Catut juga sering diistilahkan bagi orang yang menjual atau memperdagangkan sesuatu, dengan mengambil keuntungan berlipat. Semisal tukang catut tiket kereta api, tiket kapal laut, tiket nonton bola, tiket konser, atau tiket nonton film di bioskop.

Ada juga ulah yang sering diistilahkan, jika seseorang menggunakan nama orang lain untuk kepentingan pribadinya. Padahal yang bersangkutan tidak mengetahui hal itu. Maka digunakanlah istilah mencatut. Kemarin, La Oegi sempat menguping pembicaraan seseorang yang berpenampilan ala parlente kepada temannya di salah satu warkop.

Seseorang itu merasa sok kenal sok dekat (SKSD) dengan pejabat. Kepada koleganya, dia memamerkan diri kenal baik dan dekat dengan beberapa pejabat. Dia mengaku bisa membantu memuluskan sejumlah urusan. Tanpa bersusah payah mengurus ke sana kemari. “Tinggal kontak dia, urusan beres,” begitu kata La Oegi menirukan orang tersebut. 

Seperti itulah tipe tukang catut. Beda tipe rakyat kecil yang tidak paham mencatut nama pejabat. Terserah mau disebut apa, rakyat kecil tetaplah rakyat kecil. Keadaannya pun begitu-begitu saja. Bahkan ketika nama rakyat kecil dicatut, tidak ada yang berteriak mau melakukan somasi. "Dijamin tidak ada yang berani," kata La Oegi.

Padahal para pemimpin, dari yang berada di tempat yang paling empuk sampai pemimpin di lorong-lorong, kadang begitu mudahnya mencatut nama rakyat kecil. Mereka berteriak, "Mari kita perbaiki nasib rakyat kecil!". Tetapi kenyataannya, masih sering terdengar keluhan rakyat kecil. Terutama soal belum meratanya pembagian jatah beras untuk warga miskin (Raskin). Masih ada di antara warga miskin yang "berteriak" belum mendapatkan raskin.

Nah, dalam posisi demikian itu, adakah di antara rakyat kecil yang berani mencatut nama pemimpin? Jawabannya ya, kadang ada juga. Tetapi hanya rakyat kecil bernyali besar dan berpengaruh saja yang berani melakukan hal itu. Jika hanya sekadar warga sekelas penerima raskin, dalam waktu tidak terlalu lama akan diamankan aparat.

Sebaliknya, ada pemimpin yang mengaku mencatut nama rakyat. Mengapa demikian? Supaya dia disomasi, tetapi tidak ada juga somasi terdengar sampai hari ini. Batin La Oegi mengatakan, rakyat sudah mulai tahu rupanya. bahwa pemimpin itu rela menjadi ”korban” demi rakyat kecil. Malah pemimpin itu seolah menantang, "Biarlah dihujat kanan-kiri, tidak apa-apa. Saya mau bekerja untuk mewujudkan harapan rakyat yang namanya dulu pernah saya catut". Permisi, La Oegi numpang lewat. (**)

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Harian PARE POS, edisi Rabu, 25 November 2015 halaman 5 dalam Kolom NUMPANG LEWAT.

No comments:

Post a Comment