Friday, 23 October 2015

Kemarau Masih Menyengat, Antisipasi Kebakaran!

Oleh Syahrir Hakim

Menyusuri jalan ke wilayah Bacukiki, Parepare siang itu, cuaca terasa menyengat. Saking panasnya seolah mampu melelehkan jalan aspal. Di sisi kiri-kanan jalan, sesekali terdengar suara rumput kering yang saling bersentuhan diterpa angin. Tak kelihatan lagi rumput segar, semuanya berwarnna cokelat muda. Dampak musim kemarau yang berkepanjangan.

Musim kemarau menyebabkan suhu panas memuncak. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa suhu saat ini antara 23-33 derajat celcius dengan kecepatan angin 30 km per jam. Sewaktu-waktu bisa menimbulkan titik api di lahan kering, hingga terjadi kebakaran lahan. Di Kota Parepare, puluhan kasus kebakaran lahan maupun gedung atau rumah warga yang hangus. Musibah itu terjadi sejak Bulan Maret-September 2015.

Selain itu, kebakaran lahan juga terjadi akibat adanya unsur kesengajaan. Para pemilik lahan sengaja membakar lahannya sendiri untuk digunakan nanti pada saat musim hujan. Namun, di saat api mulai berkobar melalap lahannya, mereka meninggalkan begitu saja. Api pun merembet ke mana-mana tak terkontrol lagi.

Melihat kondisi seperti ini, menurut hemat saya, masyarakat maupun pihak yang berwenang harus mewaspadai dan mengantisipasi terjadinya bahaya kebakaran. Beberapa hal yang patut dilakukan oleh warga adalah: Pertama. Berhati-hati dalam membakar sampah. Api mudah membesar karena embusan angin yang kencang, sehingga bahaya kebakaran bisa terjadi. Kalaupun kita harus membakar, sisa api harus dipadamkan dengan air untuk memastikan tidak ada panas yang masih menyala di antara tumpukan abu.

Kedua. Warga harus menyimpan nomor darurat pemadam kebakaran dan nomor polisi. Gunanya, jika terjadi kebakaran, dapat langsung menghubungi pihak berwenang, agar api segera dimatikan. Ketiga. Warga harus berhati-hati dalam menggunakan kompor. Kompor yang telah digunakan harus bisa dipastikan mati apabila aktivitas memasak telah selesai. Jangan sampai kita tidur, tetapi kompor tetap menyala.

Keempat. Warga harus paham cara mematikan api di dapur apabila terjadi kebakaran kecil. Siapkan karung atau kain yang basah kemudian tutup api dengan kain tersebut. Jangan menyiram api di kompor yang terbakar. Hal itu bisa menyebabkan api menyebar karena terpercik air. Warga sebisa mungkin menyiapkan alat pemadam sendiri di rumah. Kelima. Ketika meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, pastikan semua aman. Listrik dan kompor sudah dimatikan. Selang gas ke kompor dicabut.

Bagi yang berwenang seyogianya mengantisipasi dengan: Pertama, bersiaga penuh, pihak pemadam dan para petugas rukun warga berkoordinasi lebih awal untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran. Kedua. Melakukan imbauan mengingatkan warga akan bahaya kebakaran. Imbauan dapat dilakukan dengan menyebarkan poster, melalui tempat-tempat ibadah atau lewat media televisi, radio, dan suratkabar. Sosialisasi harus menyeluruh, sehingga warga dipastikan tahu dan paham apa yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran.

Ketiga. Mempersiapkan segala peralatan yang diperlukan. Jika ada yang rusak agar segera diperbaiki, termasuk alat komunikasi, mobil, dan peralatan pemadaman api. Tentu kita tidak ingin ini terjadi. Oleh karena itu, harus waspada, jangan sampai terlena. Semoga semuanya menjadi sadar dan waspada! (**)

No comments:

Post a Comment